Bagi sebagian masyarakat di pulau Jawa, serabi merupakan menu sarapan yang sangat lezat di pagi hari. Kuliner ini semakin populer semenjak banyak diliput oleh media televisi dan ditulis oleh para food blogger. Kali ini saya ingin mengenalkan serabi dari daerah Cepu, Jawa Tengah.
Saya sendiri tidak begitu mengerti tentang serabi ini, apakah asli Cepu atau tidak. Namun yang pasti, serabi ini memiliki bentuk dan tekstur yang berbeda dari serabi-serabi yang saya tahu, seperti serabi Bandung atau serabi Solo.
Sekitar pukul 5 pagi saya berkeliling Cepu dengan sepeda untuk mencari kuliner hangat. Awalnya saya tertarik dengan penjual nasi pecel yang berjejer di tepi jalan.
Nasi putih hangat yang mengepul dari bakul dan jejeran gorengan serta sambal pecel membuat saya untuk berhenti sejenak. Namun karena perjalanan baru saja dimulai, saya menundanya dan bersepeda lebih jauh lagi. Siapa tahu, ada kuliner lain yang lebih lezat.
Tak lama kemudian saya menjumpai penjual serabi. Yang membuat saya berhenti adalah penjualnya yang hanya memakai satu meja untuk tempat kelapa dan dua tungku di bawahnya untuk memasak serabi.
Tempatnya kecil tapi yang beli lumayan banyak, sekitar enam orang. Di sana saya memutuskan berhenti dan membeli serabi ketan.
[caption id="attachment_341" align="aligncenter" width="709"]
Meja Kecil Penjual Serabi[/caption]
Sambil mengantre, saya mengamati penjual serabi tersebut yang memasak menggunakan tungku kayu bakar dan piring yang terbuat dari tanah liat. Ia hanya menuang adonan santan ke piring tanah liat tadi, lalu ditutup dan ditunggu hingga matang.
Untuk topingnya ditaburi kelapa yang sudah diparut, bubuk berwarna kemerahan, dan ketan. Semua disajikan di atas daun pisang.
[caption id="attachment_345" align="aligncenter" width="614"]
Tungku Serabi[/caption]
Rasanya serabi ini amat gurih, ada pula paduan rasa kelapa yang amat kental. Ini karena adonan menggunakan santan dan diberi taburan parutan kelapa setelah matang.
Kemudian untuk ketannya, rasanya juga sangat enak, legit, dan gurih. Untuk bubuk yang berwarna kemerahan saya tidak tahu terbuat dari apa, tapi ada rasa pedas yang tipis.
[caption id="attachment_346" align="aligncenter" width="614"]
Serabi Cepu[/caption]
Semoga bisa mencicipi serabi ketan lagi saat mampir ke cepu. Anda tertarik juga untuk mencicipinya? Untuk alamatnya saya lupa, tapi ada satu petunjuk yang saya ingat. Penjual serabi ini membuka lapaknya di depan Toko Surya.
Saya sendiri tidak begitu mengerti tentang serabi ini, apakah asli Cepu atau tidak. Namun yang pasti, serabi ini memiliki bentuk dan tekstur yang berbeda dari serabi-serabi yang saya tahu, seperti serabi Bandung atau serabi Solo.
Sekitar pukul 5 pagi saya berkeliling Cepu dengan sepeda untuk mencari kuliner hangat. Awalnya saya tertarik dengan penjual nasi pecel yang berjejer di tepi jalan.
Nasi putih hangat yang mengepul dari bakul dan jejeran gorengan serta sambal pecel membuat saya untuk berhenti sejenak. Namun karena perjalanan baru saja dimulai, saya menundanya dan bersepeda lebih jauh lagi. Siapa tahu, ada kuliner lain yang lebih lezat.
Tak lama kemudian saya menjumpai penjual serabi. Yang membuat saya berhenti adalah penjualnya yang hanya memakai satu meja untuk tempat kelapa dan dua tungku di bawahnya untuk memasak serabi.
Tempatnya kecil tapi yang beli lumayan banyak, sekitar enam orang. Di sana saya memutuskan berhenti dan membeli serabi ketan.
[caption id="attachment_341" align="aligncenter" width="709"]
Sambil mengantre, saya mengamati penjual serabi tersebut yang memasak menggunakan tungku kayu bakar dan piring yang terbuat dari tanah liat. Ia hanya menuang adonan santan ke piring tanah liat tadi, lalu ditutup dan ditunggu hingga matang.
Untuk topingnya ditaburi kelapa yang sudah diparut, bubuk berwarna kemerahan, dan ketan. Semua disajikan di atas daun pisang.
[caption id="attachment_345" align="aligncenter" width="614"]
Rasanya serabi ini amat gurih, ada pula paduan rasa kelapa yang amat kental. Ini karena adonan menggunakan santan dan diberi taburan parutan kelapa setelah matang.
Kemudian untuk ketannya, rasanya juga sangat enak, legit, dan gurih. Untuk bubuk yang berwarna kemerahan saya tidak tahu terbuat dari apa, tapi ada rasa pedas yang tipis.
[caption id="attachment_346" align="aligncenter" width="614"]
Semoga bisa mencicipi serabi ketan lagi saat mampir ke cepu. Anda tertarik juga untuk mencicipinya? Untuk alamatnya saya lupa, tapi ada satu petunjuk yang saya ingat. Penjual serabi ini membuka lapaknya di depan Toko Surya.
unik ya serabinya. banyak kekayaan kuliner indonesia yang enak
ReplyDeleteWah, kapan-kapan main ke Bandung ya.. banyak kuliner surabi juga tuh
ReplyDeletebubuk warna kemerahan biasanya bubuk kedelai...
ReplyDelete